Sabtu, 23 Januari 2010

Ensiklopedia Keraton dan Kotagede di Luncurkan !


Awal tahun ini, Yogyakarta menerbitkan dua ensiklopedia yakni tentang Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kotagede. Peluncurannya dilakukan di Hotel Brongto, Sabtu siang ini (23/1/2010) oleh Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi DIY, Djoko Dwiyanto.

Ensiklopedia keraton setebal 409 halaman, bercerita tentang sejarah kebudayaaan di sekitar keraton, sementara ensiklopedia Kotagede setebal 226. Buku ini tidak diperjualbelikan dan hanya dicetak terbatas. “Rencananya akan menjadi cinderamata Sultan Hamengku Buwono X setiap menerima tamu kenegaraan,” kata Djoko Dwiyanto.

Penerbitan ensiklopedia mulai dirintis tahun 2002, namun karena kendala dana dan teknis baru bisa diluncurkan tahun ini.

Sumber Kompas.com

Ensiklopedia Keraton dan Kotagede di Luncurkan !


Awal tahun ini, Yogyakarta menerbitkan dua ensiklopedia yakni tentang Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kotagede. Peluncurannya dilakukan di Hotel Brongto, Sabtu siang ini (23/1/2010) oleh Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi DIY, Djoko Dwiyanto.

Ensiklopedia keraton setebal 409 halaman, bercerita tentang sejarah kebudayaaan di sekitar keraton, sementara ensiklopedia Kotagede setebal 226. Buku ini tidak diperjualbelikan dan hanya dicetak terbatas. “Rencananya akan menjadi cinderamata Sultan Hamengku Buwono X setiap menerima tamu kenegaraan,” kata Djoko Dwiyanto.

Penerbitan ensiklopedia mulai dirintis tahun 2002, namun karena kendala dana dan teknis baru bisa diluncurkan tahun ini.

Sumber Kompas.com

Jumat, 22 Januari 2010

Tari "Aborijin" Rusia Menyinggung Australia !

Pasangan penari es Rusia membawakan tarian "Aborijin"

Para tokoh penduduk asli Australia menyatakan kemarahan mereka terhadap pertunjukan "tarian Aborijin" oleh penari es Rusia, Oksana Domnina dan Maxim Shabalin.

Juara dunia Rusia itu membawakan tarian dengan memakai balut badan warna coklat yang dihiasi dengan dedaunan dan garis-garis putih di tubuh mereka.

Pemuka penduduk asli, Bev Manton, menyatakan "perampasan" kebudayaan Aborijin itu sebagai tindakan yang menyinggung perasaan dan penghinaan.

Pasangan Rusia yang dijagokan untuk merebut medali emas dalam pesta olahraga Olimpiade Musim Dingin di Vancouver bulan depan, tidak dapat dihubungi untuk dimintai komentar.

Mereka sedang mengikuti kejuaraan tari es (fugure skating) Eropa di Tallinn, Estonia, tempat mereka akan menampilkan tarian Aborijin itu.

Tari sakral

"Dari sudut pandang Aborijin, pertunjukan itu menyinggung perasaan," kata Nyonya Manton dalam tulisannya di kolom tajuk surat kabar Sydney Morning Herald.

"Tarian kami, upacara kami, gambar kami -dan, yang sangat penting, cara membawakannya- adalah hal yang sakral bagi warga Aborijin Australia."

Nyonya Manton, yang menjabat ketua Dewan Tanah Aborijin di negaran bagian New South Wales, meminta juara nasional tiga kali di Rusia itu agar mempertimbangkan tarian yang akan mereka tampilkan di Olimpiade Vancouver itu.

"Ketertarikan haruslah diungkapkan dengan cara yang baik. Perampasan kesenian dan lagu-lagu kami sama sekali tidak dan bukan upaya memperkenalkan kebudayaan kami," tulis Nyonya Manton.

Domnina, 25, dan Shabalin, 27, belum lama ini mengatakan di situs tari es, Golden Skate, tentang bagaimana mereka melakukan riset atas tarian itu.

"Kami menonton potongan-potongan video di internet yang menampilkan tari-tarian itu dan persis seperti ini -lengkap dengan daun-daun di sekeliling lutut," kata Domnina.

Dia mengatakan kepada situs itu bahwa anjingnya, Topi, berperan dalam memilih musik pengiringnya.

"Sewaktu kami mainkan musik untuk tarian aslinya, anjingku langsung berlari ke kamar bagaikan gila dan kami mengerti bahwa mungkin musik inilah yang kami perlukan. Persis seperti ini, saya tidak bohong," katanya.

Pasangan Rusia tersebut mengatakan mereka berhasil memperpendek waktu yang dihabiskan untuk membuat coret-coret "Aborijin" itu.

"Biasanya kami duduk dan membaca mantra selama lima jam dan saling menghias badan kami," kata Shabalin kepada Golden Skate.

"Begitulah mula-mula, tetapi sekarang waktunya lebih singkat dari lima jam menjadi sekitar 20 menit."

Pasangan yang juga memenangi kejuaraan Eropa di tahun 2008 itu, akan kembali membawakan tarian itu setelah terhenti karena cedera lutut yang dialami Shabalin tahun lalu.

Tari "Aborijin" Rusia Menyinggung Australia !

Pasangan penari es Rusia membawakan tarian "Aborijin"

Para tokoh penduduk asli Australia menyatakan kemarahan mereka terhadap pertunjukan "tarian Aborijin" oleh penari es Rusia, Oksana Domnina dan Maxim Shabalin.

Juara dunia Rusia itu membawakan tarian dengan memakai balut badan warna coklat yang dihiasi dengan dedaunan dan garis-garis putih di tubuh mereka.

Pemuka penduduk asli, Bev Manton, menyatakan "perampasan" kebudayaan Aborijin itu sebagai tindakan yang menyinggung perasaan dan penghinaan.

Pasangan Rusia yang dijagokan untuk merebut medali emas dalam pesta olahraga Olimpiade Musim Dingin di Vancouver bulan depan, tidak dapat dihubungi untuk dimintai komentar.

Mereka sedang mengikuti kejuaraan tari es (fugure skating) Eropa di Tallinn, Estonia, tempat mereka akan menampilkan tarian Aborijin itu.

Tari sakral

"Dari sudut pandang Aborijin, pertunjukan itu menyinggung perasaan," kata Nyonya Manton dalam tulisannya di kolom tajuk surat kabar Sydney Morning Herald.

"Tarian kami, upacara kami, gambar kami -dan, yang sangat penting, cara membawakannya- adalah hal yang sakral bagi warga Aborijin Australia."

Nyonya Manton, yang menjabat ketua Dewan Tanah Aborijin di negaran bagian New South Wales, meminta juara nasional tiga kali di Rusia itu agar mempertimbangkan tarian yang akan mereka tampilkan di Olimpiade Vancouver itu.

"Ketertarikan haruslah diungkapkan dengan cara yang baik. Perampasan kesenian dan lagu-lagu kami sama sekali tidak dan bukan upaya memperkenalkan kebudayaan kami," tulis Nyonya Manton.

Domnina, 25, dan Shabalin, 27, belum lama ini mengatakan di situs tari es, Golden Skate, tentang bagaimana mereka melakukan riset atas tarian itu.

"Kami menonton potongan-potongan video di internet yang menampilkan tari-tarian itu dan persis seperti ini -lengkap dengan daun-daun di sekeliling lutut," kata Domnina.

Dia mengatakan kepada situs itu bahwa anjingnya, Topi, berperan dalam memilih musik pengiringnya.

"Sewaktu kami mainkan musik untuk tarian aslinya, anjingku langsung berlari ke kamar bagaikan gila dan kami mengerti bahwa mungkin musik inilah yang kami perlukan. Persis seperti ini, saya tidak bohong," katanya.

Pasangan Rusia tersebut mengatakan mereka berhasil memperpendek waktu yang dihabiskan untuk membuat coret-coret "Aborijin" itu.

"Biasanya kami duduk dan membaca mantra selama lima jam dan saling menghias badan kami," kata Shabalin kepada Golden Skate.

"Begitulah mula-mula, tetapi sekarang waktunya lebih singkat dari lima jam menjadi sekitar 20 menit."

Pasangan yang juga memenangi kejuaraan Eropa di tahun 2008 itu, akan kembali membawakan tarian itu setelah terhenti karena cedera lutut yang dialami Shabalin tahun lalu.

Bule Italia Ditangkap Karena Sering Makan Tidak Bayar di Kediri !


Pengadilan Negeri (PN) Kabupaten Kediri, Jawa Timur (Jatim), menjatuhkan hukuman 10 bulan kepada Tedesco Gaetano. Keberadaan warga asing itu diketahui setelah dilaporkan warga ke polisi, karena kerap tidak membayar saat makan di sebuah warung.

Pria asal Italia berusia 36 tahun tersebut, diketahui tidak memiliki ijin tinggal (paspor) sesaat sebelum sidang utusannya di PN Kabupaten Kediri. Tedesco sendiri saat ditangkap petugas kepolisian Resor Kediri pada 8 Oktober 2009 silam. Ia ditangkap saat berada di hotel Amanda, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, bersama istrinya yang berkewarganegaraan Indonesia dan anaknya setelah bertahun-tahun berpindah tempat.

Kepada petugas Tedesco mengaku, kehilangan paspornya saat tinggal di Bali. Selama ini dia menggunakan foto copy paspor, yang dikeluarkan pemerintah Italia dengan batas kadaluwarsa tanggal 17 November 2005 silam. Ironisnya, keberadaan bule tersebut diketahui petugas setelah dilaporkan warga Kecamatan Pare yang merasa terganggu dengan perilakunya sehari-hari.

Ayah satu anak ini kerap tidak membayar saat membeli makan di warung. Warga yang kesal, akhirnya melaporkannya ke polisi. Hingga akhirnya Tedesco dijebloskan ke tahanan. Tedesco yang divonis hukuman penjara 10 bulan tersebut, merasa keberatan dengan vonis yang diterima. Dia berharap, pemerintah Italia segera memberikan pertolongan untuk membebaskan dan membawanya pulang ke Italia.

Sedangkan menurut jaksa penuntut umum (JPU) Agus Eko Purnomo menyatakan, pikir-pikir atas putusan tersebut. Sebelumnya, terdakwa Tedesco Gaetano dituntut atas pelanggaran undang-undang keimigrasian dengan tuntutan 18 bulan penjara, karena melanggar pasal 52 undang-undang nomor 9 tahun 1992 tentang keimigrasian.

Bule Italia Ditangkap Karena Sering Makan Tidak Bayar di Kediri !


Pengadilan Negeri (PN) Kabupaten Kediri, Jawa Timur (Jatim), menjatuhkan hukuman 10 bulan kepada Tedesco Gaetano. Keberadaan warga asing itu diketahui setelah dilaporkan warga ke polisi, karena kerap tidak membayar saat makan di sebuah warung.

Pria asal Italia berusia 36 tahun tersebut, diketahui tidak memiliki ijin tinggal (paspor) sesaat sebelum sidang utusannya di PN Kabupaten Kediri. Tedesco sendiri saat ditangkap petugas kepolisian Resor Kediri pada 8 Oktober 2009 silam. Ia ditangkap saat berada di hotel Amanda, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, bersama istrinya yang berkewarganegaraan Indonesia dan anaknya setelah bertahun-tahun berpindah tempat.

Kepada petugas Tedesco mengaku, kehilangan paspornya saat tinggal di Bali. Selama ini dia menggunakan foto copy paspor, yang dikeluarkan pemerintah Italia dengan batas kadaluwarsa tanggal 17 November 2005 silam. Ironisnya, keberadaan bule tersebut diketahui petugas setelah dilaporkan warga Kecamatan Pare yang merasa terganggu dengan perilakunya sehari-hari.

Ayah satu anak ini kerap tidak membayar saat membeli makan di warung. Warga yang kesal, akhirnya melaporkannya ke polisi. Hingga akhirnya Tedesco dijebloskan ke tahanan. Tedesco yang divonis hukuman penjara 10 bulan tersebut, merasa keberatan dengan vonis yang diterima. Dia berharap, pemerintah Italia segera memberikan pertolongan untuk membebaskan dan membawanya pulang ke Italia.

Sedangkan menurut jaksa penuntut umum (JPU) Agus Eko Purnomo menyatakan, pikir-pikir atas putusan tersebut. Sebelumnya, terdakwa Tedesco Gaetano dituntut atas pelanggaran undang-undang keimigrasian dengan tuntutan 18 bulan penjara, karena melanggar pasal 52 undang-undang nomor 9 tahun 1992 tentang keimigrasian.

Islam Jadi Mata Pelajaran di Sekolah Umum Jerman !


Ketika Lamya Kaddor mulai mengajar di Sekolah Gluecklauf di kota pertambangan di Jerman ini, ia memutar otak bagaimana menyajikan materi yang menarik bagi anak didiknya. Ia membayangkan, kelasnya bakal "tegang" karena materi yang disampaikan lumayan "berat", atau bahkan muridnya bosan dan pergi. Namun yang terjadi di luar dugaan.

Pelajaran agama Islam yang menjadi mata pelajaran pilihan, diikuti banyak siswa. Tak hanya anak-anak Muslim, tapi juga non-Muslim. Mereka mengajukan pertanyaan-pertanyaan seputar kehidupan mereka dan bagaimana pandangan Islam soal itu.

Apakah saya boleh punya pacar? Apakah kalau saya menganut Islam, saya boleh mengecat kuku saya? Apakah saya akan dibakar di api neraka jika saya memutuskan menjadi gay? Demikian berondongan pertanyaan yang harus dijawab Kaddor. Ia pun makin bersemangat mengelola kelasnya.

Ya, konstitusi Jerman menetapkan bahwa agama menjadi bagian dari kurikulum sekolah. Inisiatif lahir dari kekejaman era Nazi, dan kali ini, ingin memberi landasan etika dan identitas bagi generasi muda. Maka, keran pendidikan agama dibuka di tiap sekolah negeri. Katolik dan Kristen telah lebih dulu mengajarkan agama di sekolah, dengan didanai publik. Yahudi baru tahun 2003 mengajarkan agamanya di sekolah. Dan, sejak akhir tahun lalu, guru Muslim didatangkan untuk mengajar pendidikan agama Islam.

Sejumlah pengamat, seperti dilaporkan Christian science Monitor, menyatakan kelas Islam ini positif untuk membantu integrasi kaum Muslim yang berjumlah 6 persen dari populasi itu. kelas ini juga menunjukkan sikap terbaru pemerintah Jerman terhadap minoritas Muslim.

"Kelas Muslim di sekolah umum adalah tes untuk integrasi Jerman," kata Michael Kiefer, penulis sejarah Islam di Jerman. Kaum Muslim, katanya, bisa melihat bahwa mereka mendapatkan sesuatu yang agama-agama lain juga mendapatkan. "Ini berdampak sangat positif pada mereka. "

Selama beberapa dekade, Jerman tidak banyak berbuat bagi minoritas Muslim. Mereka mengklasifikasikan Muslim sebagai pendatang, bukan bagian dari mereka. Tetapi, seperti kata CSM, Jerman sekarang lebih bersedia untuk melihat imigran sebagai bagian dari identitas negara.

Sebetulnya, ada beberapa contoh menarik tentang apreasiasi pemerintah terhadap Muslim di Jerman. Di North Rhine Westphalia, misalnya, kelas Islam bukan hal baru. Di kota dimana sepertiga dari umat Islam Jerman hidup, ada 150 sekolah umum menawarkan studi Islam untuk 13 ribu anak-anak mulai kelas 1 sampai 10. Sekitar 200 sekolah mengajarkan kursus nasional, yang didirikan oleh pemerintah negara bagian bekerja sama dengan kelompok-kelompok Muslim lokal.

Genderang ditabuh Menteri Dalam Negeri Wolfgang Schäuble tahun lalu, saat mendesak agar Jerman mendanai pendidikan agama bagi 900 ribu siswa Muslim di sekolah-sekolah umum. "Ini dapat menjadi teladan bagi masyarakat kita untuk mengakui dan mengatasi semua perbedaan yang menghadang kita," katanya di depan parlemen.

Menurut sebuah penelitian yang dirilis Kementerian Dalam Negeri musim semi lalu, 80 persen Muslim di Jerman hanya menginginkan itu. Yang dipertaruhkan adalah keadilan serta pragmatisme: lebih baik untuk negara - pendidikan agama secara formal dalam bahasa Jerman, daripada kelas-kelas agama tanpa pengawasan. "Kita harus melarikan diri dari pemikiran bahwa Islam adalah agama untuk orang asing," katanya.

Tanpa perlu menunggu lama, palu diketuk dan pendidikan Islam disetujui untuk diberikan di sekolah-sekolah umum di seluruh Jerman.

Sekolah-sekolah banyak mendapatkan hal positif dengan pendidikan ini. Hans-Jakob Herpers, kepala Sekolah Gluecklauf, menyatakan, guru agama Islam tak sekadar mengajarkan agama Islam saja. "Dia telah menjadi semacam penasihat kehidupan bagi para siswa, terutama untuk anak perempuan, yang mungkin tidak berani mengajukan pertanyaan-pertanyaan tertentu pada orang tua atau di sekolah-sekolah agama," ujarnya.

Herpers mengaku, semua agama mengajarkan kebaikan. Satu lagi yang terpenting, pada siswa Muslim mereka telah mendapatkan identitasnya: bahwa mereka adalah bagian dari bangsa Jerman, yang hak-haknya dihargai seperti yang lain. Republika.co.id