Jumat, 28 Mei 2010

Sifat-Sifat Nabi Muhammad SAW !



Fizikal Nabi
Telah dikeluarkan oleh Ya'kub bin Sufyan Al-Faswi dari Al-Hasan bin Ali ra. katanya: Pernah aku menanyai pamanku (dari sebelah ibu) Hind bin Abu Halah, dan aku tahu baginda memang sangat pandai mensifatkan perilaku Rasulullah SAW, padahal aku ingin sekali untuk disifatkan kepadaku sesuatu dari sifat beliau yang dapat aku mencontohinya, maka dia berkata: Adalah Rasulullah SAW itu seorang yang agung yang senantiasa diagungkan, wajahnya berseri-seri layak bulan di malam purnamanya, tingginya cukup tidak terialu ketara, juga tidak terlalu pendek, dadanya bidang, rambutnya selalu rapi antara lurus dan bergelombang, dan memanjang hingga ke tepi telinganya, lebat, warnanya hitam, dahinya luas, alisnya lentik halus terpisah di antara keduanya, yang bila baginda marah kelihatannya seperti bercantum, hidungnya mancung, kelihatan memancar cahaya ke atasnya, janggutnya lebat, kedua belah matanya hitam, kedua pipinya lembut dan halus, mulutnya tebal, giginya putih bersih dan jarang-jarang, di dadanya tumbuh bulu-bulu yang halus, tengkuknya memanjang, berbentuk sederhana, berbadan besar lagi tegap, rata antara perutnya dan dadanya, luas dadanya, lebar antara kedua bahunya, tulang belakangnya besar, kulitnya bersih, antara dadanya dan pusatnya dipenuhi oleh bulu-bulu yang halus, pada kedua teteknya dan perutnya bersih dari bulu, sedang pada kedua lengannya dan bahunya dan di atas dadanya berbulu pula, lengannya panjang, telapak tangannya lebar, halus tulangnya, jari telapak kedua tangan dan kakinya tebal berisi daging, panjang ujung jarinya, rongga telapak kakinya tidak menyentuh tanah apabila baginda berjalan, dan telapak kakinya lembut serta licin tidak ada lipatan, tinggi seolah-olah air sedang memancar daripadanya, bila diangkat kakinya diangkatnya dengan lembut (tidak seperti jalannya orang menyombongkan diri), melangkah satu-satu dan perlahan-lahan, langkahnya panjang-panjang seperti orang yang melangkah atas jurang, bila menoleh dengan semua badannya, pandangannya sering ke bumi, kelihatan baginda lebih banyak melihat ke arah bumi daripada melihat ke atas langit, jarang baginda memerhatikan sesuatu dengan terlalu lama, selalu berjalan beriringan dengan sahabat-sahabatnya, selalu memulakan salam kepada siapa yang ditemuinya.

Kebiasaan Nabi
Kataku pula: Sifatkanlah kepadaku mengenai kebiasaannya!Jawab pamanku: Adalah Rasulullah SAW itu kelihatannya seperti orang yang selalu bersedih, senantiasa banyak berfikir, tidak pernah beristirshat panjang, tidak berbicara bila tidak ada keperluan, banyak diamnya, memulakan bicara dan menghabiskannya dengan sepenuh mulutnva, kata-katanya penuh mutiara mauti manikam, satu-satu kalimatnya, tidak berlebih-lebihan atau berkurang-kurangan, lemah lembut tidak terlalu kasar atau menghina diri, senantiasa membesarkan nikmat walaupun kecil, tidak pernah mencela nikmat apa pun atau terlalu memujinya, tiada seorang dapat meredakan marahnya, apabila sesuatu dari kebenaran dihinakan sehingga dia dapat membelanya.

Dalam riwayat lain, dikatakan bahwa baginda menjadi marah kerana sesuatu urusan dunia atau apa-apa yang bertalian dengannya, tetapi apabila baginda melihat kebenaran itu dihinakan, tiada seorang yang dapat melebihi marahnya, sehingga baginda dapat membela kerananya. Baginda tidak pernah marah untuk dirinya, atau membela sesuatu untuk kepentingan dirinya, bila mengisyarat diisyaratkan dengan semua telapak tangannya, dan bila baginda merasa takjub dibalikkan telapak tangannya, dan bila berbicara dikumpulkan tangannya dengan menumpukan telapak tangannya yang kanan pada ibu jari tangan kirinya, dan bila baginda marah baginda terus berpaling dari arah yang menyebabkan ia marah, dan bila baginda gembira dipejamkan matanya, kebanyakan ketawanya ialah dengan tersenyum, dan bila baginda ketawa, baginda ketawa seperti embun yang dingin.

Berkata Al-Hasan lagi: Semua sifat-sifat ini aku simpan dalam diriku lama juga. Kemudian aku berbicara mengenainya kepada Al-Husain bin Ali, dan aku dapati ianya sudah terlebih dahulu menanyakan pamanku tentang apa yang aku tanyakan itu. Dan dia juga telah menanyakan ayahku (Ali bin Abu Thalib ra.) tentang cara keluar baginda dan masuk baginda, tentang cara duduknya, malah tentang segala sesuatu mengenai Rasulullah SAW itu.

Rumah Nabi
Berkata Al-Hasan ra. lagi: Aku juga pernah menanyakan ayahku tentang masuknya Rasulullah SAW lalu dia menjawab: Masuknya ke dalam rumahnya bila sudah diizinkan khusus baginya, dan apabila baginda berada di dalam rumahnya dibagikan masanya tiga bagian. Satu bagian khusus untuk Allah ta'ala, satu bagian untuk isteri-isterinya, dan satu bagian lagi untuk dirinya sendiri. Kemudian dijadikan bagian untuk dirinya itu terpenuh dengan urusan di antaranya dengan manusia, dihabiskan waktunya itu untuk melayani semua orang yang awam maupun yang khusus, tiada seorang pun dibedakan dari yang lain.

Di antara tabiatnya ketika melayani ummat, baginda selalu memberikan perhatiannya kepada orang-orang yang terutama untuk dididiknya, dilayani mereka menurut kelebihan diri masing-masing dalam agama. Ada yang keperluannya satu ada yang dua, dan ada yang lebih dari itu, maka baginda akan duduk dengan mereka dan melayani semua urusan mereka yang berkaitan dengan diri mereka sendiri dan kepentingan ummat secara umum, coba menunjuki mereka apa yang perlu dan memberitahu mereka apa yang patut dilakukan untuk kepentingan semua orang dengan mengingatkan pula: "Hendaklah siapa yang hadir menyampaikan kepada siapa yang tidak hadir. Jangan lupa menyampaikan kepadaku keperluan orang yang tidak dapat menyampaikannya sendiri, sebab sesiapa yang menyampaikan keperluan orang yang tidak dapat menyampaikan keperluannya sendiri kepada seorang penguasa, niscaya Allah SWT akan menetapkan kedua tumitnya di hari kiamat", tiada disebutkan di situ hanya hal-hal yang seumpama itu saja.

Baginda tidak menerima dari bicara yang lain kecuali sesuatu untuk maslahat ummatnya. Mereka datang kepadanya sebagai orang-orang yang berziarah, namun mereka tiada meninggalkan tempat melainkan dengan berisi. Dalam riwayat lain mereka tiada berpisah melainkan sesudah mengumpul banyak faedah, dan mereka keluar dari majelisnya sebagai orang yang ahli dalam hal-ihwal agamanya.

Luaran Nabi
Berkata Al-Hasan r.a. lagi: Kemudian saya bertanya tentang keadaannya di luar, dan apa yang dibuatnya? Jawabnya: Adalah Rasulullah SAW ketika di luar, senantiasa mengunci lidahnya, kecuali jika memang ada kepentingan untuk ummatnya. Baginda selalu beramah-tamah kepada mereka, dan tidak kasar dalam bicaranya. Baginda senantiasa memuliakan ketua setiap suku dan kaum dan meletakkan masing-masing di tempatnya yang layak. Kadang-kadang baginda mengingatkan orang ramai, tetapi baginda senantiasa menjaga hati mereka agar tidak dinampakkan pada mereka selain mukanya yang manis dan akhlaknya yang mulia. Baginda selalu menanyakan sahabat-sahabatnya bila mereka tidak datang, dan selalu bertanyakan berita orang ramai dan apa yang ditanggunginya. Mana yang baik dipuji dan dianjurkan, dan mana yang buruk dicela dan dicegahkan.

Baginda senantiasa bersikap pertengahan dalam segala perkara, tidak banyak membantah, tidak pernah lalai supaya mereka juga tidak suka lalai atau menyeleweng, semua perkaranya baik dan terjaga, tidak pernah meremehkan atau menyeleweng dari kebenaran, orang-orang yang senantiasa mendampinginya ialah orang-orang paling baik kelakuannya, yang dipandang utama di sampingnya, yang paling banyak dapat memberi nasihat, yang paling tinggi kedudukannya, yang paling bersedia untuk berkorban dan membantu dalam apa keadaan sekalipun.

Majlis Nabi
Berkata Al-Hasan ra. lagi: Saya lalu bertanya pula tentang majelis Nabi SAW dan bagaimana caranya ? Jawabnya: Bahwa Rasulullah SAW tidak duduk dalam sesuatu majelis, atau bangun daripadanya, melainkan baginda berzikir kepada Allah SWT baginda tidak pernah memilih tempat yang tertentu, dan melarang orang meminta ditempatkan di suatu tempat yang tertentu. Apabila baginda sampai kepada sesuatu tempat, di situlah baginda duduk sehingga selesai majelis itu dan baginda menyuruh membuat seperti itu. Bila berhadapan dengan orang ramai diberikan pandangannya kepada semua orang dengan sama rata, sehingga orang-orang yang berada di majelisnya itu merasa tiada seorang pun yang diberikan penghormatan lebih darinya. Bila ada orang yang datang kepadanya kerana sesuatu keperluan, atau sesuatu masliahat, baginda terus melayaninya dengan penuh kesabaran hinggalah orang itu bangun dan kembali.

Baginda tidak pemah menghampakan orang yang meminta daripadanya sesuatu keperluan, jika ada diberikan kepadanya, dan jika tidak ada dijawabnya dengan kata-kata yang tidak mengecewakan hatinya. Budipekertinya sangat baik, dan perilakunya sungguh bijak. Baginda dianggap semua orang seperti ayah, dan mereka dipandang di sisinya semuanya sama dalam hal kebenaran, tidak berat sebelah. Majelisnya semuanya ramah-tamah, segan-silu, sabar menunggu, amanah, tidak pemah terdengar suara yang tinggi, tidak dibuat padanya segala yang dilarangi, tidak disebut yang jijik dan buruk, semua orang sama kecuali dengan kelebihan taqwa, semuanya merendah diri, yang tua dihormati yang muda, dan yang muda dirahmati yang tua, yang perlu selalu diutamakan, yang asing selalu didahulukan.

Berkata Al-Hasan ra. lagi: Saya pun lalu menanyakan tentang kelakuan Rasulullah SAW pada orang-orang yang selalu duduk-duduk bersama-sama dengannya? Jawabnya: Adalah Rasulullah SAW selalu periang orangnya, pekertinya mudah dilayan, seialu berlemah-lembut, tidak keras atau bengis, tidak kasar atau suka berteriak-teriak, kata-katanya tidak kotor, tidak banyak bergurau atau beromong kosong segera melupakan apa yang tiada disukainya, tidak pernah mengecewakan orang yang berharap kepadanya, tidak suka menjadikan orang berputus asa. Sangat jelas dalam perilakunya tiga perkara yang berikut. Baginda tidak suka mencela orang dan memburukkannya. Baginda tidak suka mencari-cari keaiban orang dan tidak berbicara mengenai seseorang kecuali yang mendatangkan faedah dan menghasilkan pahala.

Apabila baginda berbicara, semua orang yang berada dalam majelisnya memperhatikannya dengan tekun seolah-olah burung sedang tertengger di atas kepala mereka. Bila baginda berhenti berbicara, mereka baru mula berbicara, dan bila dia berbicara pula, semua mereka berdiam seribu basa. Mereka tidak pernah bertengkar di hadapannya. Baginda tertawa bila dilihatnya mereka tertawa, dan baginda merasa takjub bila mereka merasa takjub. Baginda selalu bersabar bila didatangi orang badwi yang seringkali bersifat kasar dan suka mendesak ketika meminta sesuatu daripadanya tanpa mahu mengalah atau menunggu, sehingga terkadang para sahabatnya merasa jengkel dan kurang senang, tetapi baginda tetap menyabarkan mereka dengan berkata: "Jika kamu dapati seseorang yang perlu datang, hendaklah kamu menolongnya dan jangan menghardiknya!". Baginda juga tidak mengharapkan pujian daripada siapa yang ditolongnya, dan kalau mereka mau memujinya pun, baginda tidak menggalakkan untuk berbuat begitu. Baginda tidak pernah memotong bicara sesiapa pun sehingga orang itu habis berbicara, lalu barulah baginda berbicara, atau baginda menjauh dari tempat itu.

Diamnya Nabi
Berkata Al-Hasan r.a. lagi: Saya pun menanyakan pula tentang diamnya, bagaimana pula keadaannya? Jawabnya: Diam Rasulullah SAW bergantung kepada mempertimbangkan empat hal, yaitu: Kerana adab sopan santun, kerana berhati-hati, kerana mempertimbangkan sesuatu di antara manusia, dan kerana bertafakkur. Adapun sebab pertimbangannya ialah kerana persamaannya dalam pandangan dan pendengaran di antara manusia. Adapun tentang tafakkurnya ialah pada apa yang kekal dan yang binasa. Dan terkumpul pula dalam peribadinya sifat-sifat kesantunan dan kesabaran. Tidak ada sesuatu yang boleh menyebabkan dia menjadi marah, ataupun menjadikannya membenci. Dan terkumpul dalam peribadinya sifat berhati-hati dalam empat perkara, iaitu: Suka membuat yang baik-baik dan melaksanakannya untuk kepentingan ummat dalam hal-ehwal mereka yang berkaitan dengan dunia mahupun akhirat, agar dapat dicontohi oleh yang lain. Baginda meninggalkan yang buruk, agar dijauhi dan tidak dibuat oleh yang lain. Bersungguh-sungguh mencari jalan yang baik untuk maslahat ummatnya, dan melakukan apa yang dapat mendatangkan manfaat buat ummatnya, baik buat dunia ataupun buat akhirat.

(Nukilan Thabarani - Majma'uz-Zawa'id 8:275)
Labels: Kisah 25 Nabi dan Rasul, Sejarah

Sifat-Sifat Nabi Muhammad SAW !



Fizikal Nabi
Telah dikeluarkan oleh Ya'kub bin Sufyan Al-Faswi dari Al-Hasan bin Ali ra. katanya: Pernah aku menanyai pamanku (dari sebelah ibu) Hind bin Abu Halah, dan aku tahu baginda memang sangat pandai mensifatkan perilaku Rasulullah SAW, padahal aku ingin sekali untuk disifatkan kepadaku sesuatu dari sifat beliau yang dapat aku mencontohinya, maka dia berkata: Adalah Rasulullah SAW itu seorang yang agung yang senantiasa diagungkan, wajahnya berseri-seri layak bulan di malam purnamanya, tingginya cukup tidak terialu ketara, juga tidak terlalu pendek, dadanya bidang, rambutnya selalu rapi antara lurus dan bergelombang, dan memanjang hingga ke tepi telinganya, lebat, warnanya hitam, dahinya luas, alisnya lentik halus terpisah di antara keduanya, yang bila baginda marah kelihatannya seperti bercantum, hidungnya mancung, kelihatan memancar cahaya ke atasnya, janggutnya lebat, kedua belah matanya hitam, kedua pipinya lembut dan halus, mulutnya tebal, giginya putih bersih dan jarang-jarang, di dadanya tumbuh bulu-bulu yang halus, tengkuknya memanjang, berbentuk sederhana, berbadan besar lagi tegap, rata antara perutnya dan dadanya, luas dadanya, lebar antara kedua bahunya, tulang belakangnya besar, kulitnya bersih, antara dadanya dan pusatnya dipenuhi oleh bulu-bulu yang halus, pada kedua teteknya dan perutnya bersih dari bulu, sedang pada kedua lengannya dan bahunya dan di atas dadanya berbulu pula, lengannya panjang, telapak tangannya lebar, halus tulangnya, jari telapak kedua tangan dan kakinya tebal berisi daging, panjang ujung jarinya, rongga telapak kakinya tidak menyentuh tanah apabila baginda berjalan, dan telapak kakinya lembut serta licin tidak ada lipatan, tinggi seolah-olah air sedang memancar daripadanya, bila diangkat kakinya diangkatnya dengan lembut (tidak seperti jalannya orang menyombongkan diri), melangkah satu-satu dan perlahan-lahan, langkahnya panjang-panjang seperti orang yang melangkah atas jurang, bila menoleh dengan semua badannya, pandangannya sering ke bumi, kelihatan baginda lebih banyak melihat ke arah bumi daripada melihat ke atas langit, jarang baginda memerhatikan sesuatu dengan terlalu lama, selalu berjalan beriringan dengan sahabat-sahabatnya, selalu memulakan salam kepada siapa yang ditemuinya.

Kebiasaan Nabi
Kataku pula: Sifatkanlah kepadaku mengenai kebiasaannya!Jawab pamanku: Adalah Rasulullah SAW itu kelihatannya seperti orang yang selalu bersedih, senantiasa banyak berfikir, tidak pernah beristirshat panjang, tidak berbicara bila tidak ada keperluan, banyak diamnya, memulakan bicara dan menghabiskannya dengan sepenuh mulutnva, kata-katanya penuh mutiara mauti manikam, satu-satu kalimatnya, tidak berlebih-lebihan atau berkurang-kurangan, lemah lembut tidak terlalu kasar atau menghina diri, senantiasa membesarkan nikmat walaupun kecil, tidak pernah mencela nikmat apa pun atau terlalu memujinya, tiada seorang dapat meredakan marahnya, apabila sesuatu dari kebenaran dihinakan sehingga dia dapat membelanya.

Dalam riwayat lain, dikatakan bahwa baginda menjadi marah kerana sesuatu urusan dunia atau apa-apa yang bertalian dengannya, tetapi apabila baginda melihat kebenaran itu dihinakan, tiada seorang yang dapat melebihi marahnya, sehingga baginda dapat membela kerananya. Baginda tidak pernah marah untuk dirinya, atau membela sesuatu untuk kepentingan dirinya, bila mengisyarat diisyaratkan dengan semua telapak tangannya, dan bila baginda merasa takjub dibalikkan telapak tangannya, dan bila berbicara dikumpulkan tangannya dengan menumpukan telapak tangannya yang kanan pada ibu jari tangan kirinya, dan bila baginda marah baginda terus berpaling dari arah yang menyebabkan ia marah, dan bila baginda gembira dipejamkan matanya, kebanyakan ketawanya ialah dengan tersenyum, dan bila baginda ketawa, baginda ketawa seperti embun yang dingin.

Berkata Al-Hasan lagi: Semua sifat-sifat ini aku simpan dalam diriku lama juga. Kemudian aku berbicara mengenainya kepada Al-Husain bin Ali, dan aku dapati ianya sudah terlebih dahulu menanyakan pamanku tentang apa yang aku tanyakan itu. Dan dia juga telah menanyakan ayahku (Ali bin Abu Thalib ra.) tentang cara keluar baginda dan masuk baginda, tentang cara duduknya, malah tentang segala sesuatu mengenai Rasulullah SAW itu.

Rumah Nabi
Berkata Al-Hasan ra. lagi: Aku juga pernah menanyakan ayahku tentang masuknya Rasulullah SAW lalu dia menjawab: Masuknya ke dalam rumahnya bila sudah diizinkan khusus baginya, dan apabila baginda berada di dalam rumahnya dibagikan masanya tiga bagian. Satu bagian khusus untuk Allah ta'ala, satu bagian untuk isteri-isterinya, dan satu bagian lagi untuk dirinya sendiri. Kemudian dijadikan bagian untuk dirinya itu terpenuh dengan urusan di antaranya dengan manusia, dihabiskan waktunya itu untuk melayani semua orang yang awam maupun yang khusus, tiada seorang pun dibedakan dari yang lain.

Di antara tabiatnya ketika melayani ummat, baginda selalu memberikan perhatiannya kepada orang-orang yang terutama untuk dididiknya, dilayani mereka menurut kelebihan diri masing-masing dalam agama. Ada yang keperluannya satu ada yang dua, dan ada yang lebih dari itu, maka baginda akan duduk dengan mereka dan melayani semua urusan mereka yang berkaitan dengan diri mereka sendiri dan kepentingan ummat secara umum, coba menunjuki mereka apa yang perlu dan memberitahu mereka apa yang patut dilakukan untuk kepentingan semua orang dengan mengingatkan pula: "Hendaklah siapa yang hadir menyampaikan kepada siapa yang tidak hadir. Jangan lupa menyampaikan kepadaku keperluan orang yang tidak dapat menyampaikannya sendiri, sebab sesiapa yang menyampaikan keperluan orang yang tidak dapat menyampaikan keperluannya sendiri kepada seorang penguasa, niscaya Allah SWT akan menetapkan kedua tumitnya di hari kiamat", tiada disebutkan di situ hanya hal-hal yang seumpama itu saja.

Baginda tidak menerima dari bicara yang lain kecuali sesuatu untuk maslahat ummatnya. Mereka datang kepadanya sebagai orang-orang yang berziarah, namun mereka tiada meninggalkan tempat melainkan dengan berisi. Dalam riwayat lain mereka tiada berpisah melainkan sesudah mengumpul banyak faedah, dan mereka keluar dari majelisnya sebagai orang yang ahli dalam hal-ihwal agamanya.

Luaran Nabi
Berkata Al-Hasan r.a. lagi: Kemudian saya bertanya tentang keadaannya di luar, dan apa yang dibuatnya? Jawabnya: Adalah Rasulullah SAW ketika di luar, senantiasa mengunci lidahnya, kecuali jika memang ada kepentingan untuk ummatnya. Baginda selalu beramah-tamah kepada mereka, dan tidak kasar dalam bicaranya. Baginda senantiasa memuliakan ketua setiap suku dan kaum dan meletakkan masing-masing di tempatnya yang layak. Kadang-kadang baginda mengingatkan orang ramai, tetapi baginda senantiasa menjaga hati mereka agar tidak dinampakkan pada mereka selain mukanya yang manis dan akhlaknya yang mulia. Baginda selalu menanyakan sahabat-sahabatnya bila mereka tidak datang, dan selalu bertanyakan berita orang ramai dan apa yang ditanggunginya. Mana yang baik dipuji dan dianjurkan, dan mana yang buruk dicela dan dicegahkan.

Baginda senantiasa bersikap pertengahan dalam segala perkara, tidak banyak membantah, tidak pernah lalai supaya mereka juga tidak suka lalai atau menyeleweng, semua perkaranya baik dan terjaga, tidak pernah meremehkan atau menyeleweng dari kebenaran, orang-orang yang senantiasa mendampinginya ialah orang-orang paling baik kelakuannya, yang dipandang utama di sampingnya, yang paling banyak dapat memberi nasihat, yang paling tinggi kedudukannya, yang paling bersedia untuk berkorban dan membantu dalam apa keadaan sekalipun.

Majlis Nabi
Berkata Al-Hasan ra. lagi: Saya lalu bertanya pula tentang majelis Nabi SAW dan bagaimana caranya ? Jawabnya: Bahwa Rasulullah SAW tidak duduk dalam sesuatu majelis, atau bangun daripadanya, melainkan baginda berzikir kepada Allah SWT baginda tidak pernah memilih tempat yang tertentu, dan melarang orang meminta ditempatkan di suatu tempat yang tertentu. Apabila baginda sampai kepada sesuatu tempat, di situlah baginda duduk sehingga selesai majelis itu dan baginda menyuruh membuat seperti itu. Bila berhadapan dengan orang ramai diberikan pandangannya kepada semua orang dengan sama rata, sehingga orang-orang yang berada di majelisnya itu merasa tiada seorang pun yang diberikan penghormatan lebih darinya. Bila ada orang yang datang kepadanya kerana sesuatu keperluan, atau sesuatu masliahat, baginda terus melayaninya dengan penuh kesabaran hinggalah orang itu bangun dan kembali.

Baginda tidak pemah menghampakan orang yang meminta daripadanya sesuatu keperluan, jika ada diberikan kepadanya, dan jika tidak ada dijawabnya dengan kata-kata yang tidak mengecewakan hatinya. Budipekertinya sangat baik, dan perilakunya sungguh bijak. Baginda dianggap semua orang seperti ayah, dan mereka dipandang di sisinya semuanya sama dalam hal kebenaran, tidak berat sebelah. Majelisnya semuanya ramah-tamah, segan-silu, sabar menunggu, amanah, tidak pemah terdengar suara yang tinggi, tidak dibuat padanya segala yang dilarangi, tidak disebut yang jijik dan buruk, semua orang sama kecuali dengan kelebihan taqwa, semuanya merendah diri, yang tua dihormati yang muda, dan yang muda dirahmati yang tua, yang perlu selalu diutamakan, yang asing selalu didahulukan.

Berkata Al-Hasan ra. lagi: Saya pun lalu menanyakan tentang kelakuan Rasulullah SAW pada orang-orang yang selalu duduk-duduk bersama-sama dengannya? Jawabnya: Adalah Rasulullah SAW selalu periang orangnya, pekertinya mudah dilayan, seialu berlemah-lembut, tidak keras atau bengis, tidak kasar atau suka berteriak-teriak, kata-katanya tidak kotor, tidak banyak bergurau atau beromong kosong segera melupakan apa yang tiada disukainya, tidak pernah mengecewakan orang yang berharap kepadanya, tidak suka menjadikan orang berputus asa. Sangat jelas dalam perilakunya tiga perkara yang berikut. Baginda tidak suka mencela orang dan memburukkannya. Baginda tidak suka mencari-cari keaiban orang dan tidak berbicara mengenai seseorang kecuali yang mendatangkan faedah dan menghasilkan pahala.

Apabila baginda berbicara, semua orang yang berada dalam majelisnya memperhatikannya dengan tekun seolah-olah burung sedang tertengger di atas kepala mereka. Bila baginda berhenti berbicara, mereka baru mula berbicara, dan bila dia berbicara pula, semua mereka berdiam seribu basa. Mereka tidak pernah bertengkar di hadapannya. Baginda tertawa bila dilihatnya mereka tertawa, dan baginda merasa takjub bila mereka merasa takjub. Baginda selalu bersabar bila didatangi orang badwi yang seringkali bersifat kasar dan suka mendesak ketika meminta sesuatu daripadanya tanpa mahu mengalah atau menunggu, sehingga terkadang para sahabatnya merasa jengkel dan kurang senang, tetapi baginda tetap menyabarkan mereka dengan berkata: "Jika kamu dapati seseorang yang perlu datang, hendaklah kamu menolongnya dan jangan menghardiknya!". Baginda juga tidak mengharapkan pujian daripada siapa yang ditolongnya, dan kalau mereka mau memujinya pun, baginda tidak menggalakkan untuk berbuat begitu. Baginda tidak pernah memotong bicara sesiapa pun sehingga orang itu habis berbicara, lalu barulah baginda berbicara, atau baginda menjauh dari tempat itu.

Diamnya Nabi
Berkata Al-Hasan r.a. lagi: Saya pun menanyakan pula tentang diamnya, bagaimana pula keadaannya? Jawabnya: Diam Rasulullah SAW bergantung kepada mempertimbangkan empat hal, yaitu: Kerana adab sopan santun, kerana berhati-hati, kerana mempertimbangkan sesuatu di antara manusia, dan kerana bertafakkur. Adapun sebab pertimbangannya ialah kerana persamaannya dalam pandangan dan pendengaran di antara manusia. Adapun tentang tafakkurnya ialah pada apa yang kekal dan yang binasa. Dan terkumpul pula dalam peribadinya sifat-sifat kesantunan dan kesabaran. Tidak ada sesuatu yang boleh menyebabkan dia menjadi marah, ataupun menjadikannya membenci. Dan terkumpul dalam peribadinya sifat berhati-hati dalam empat perkara, iaitu: Suka membuat yang baik-baik dan melaksanakannya untuk kepentingan ummat dalam hal-ehwal mereka yang berkaitan dengan dunia mahupun akhirat, agar dapat dicontohi oleh yang lain. Baginda meninggalkan yang buruk, agar dijauhi dan tidak dibuat oleh yang lain. Bersungguh-sungguh mencari jalan yang baik untuk maslahat ummatnya, dan melakukan apa yang dapat mendatangkan manfaat buat ummatnya, baik buat dunia ataupun buat akhirat.

(Nukilan Thabarani - Majma'uz-Zawa'id 8:275)
Labels: Kisah 25 Nabi dan Rasul, Sejarah

Kamis, 27 Mei 2010

8 Tameng Hadapi Resiko PHK !


TIDAK ada seorang pun yang mengharapkan dirinya bakal mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) oleh perusahaan tempat bekerja sekarang. Akan tetapi, di tengah kondisi perekonomian yang fluktuatif, segalanya mungkin terjadi.

Jangan biarkan diri Anda menghadapi situasi terburuk tanpa tameng pelindung. Persiapkan diri menghadapi mimpi buruk tersebut dengan menjalankan sejumlah tindakan antisipasi berikut ini:

1. Dana darurat
Para pakar umumnya menyarankan untuk menyisihkan dana sebesar tiga sampai enam kali pengeluaran hidup perbulan (biaya sewa tempat tinggal, hipotek, makanan, tagihan listrik, air, dan lain-lain). Simpan dana tersebut ke dalam akun tabungan berbunga tinggi.

2. Lunasi utang
Cicil atau lunasi utang kartu kredit berbunga tinggi yang Anda miliki. Jika tidak mungkin, transfer ke kartu kredit berbunga rendah, atau ambil pinjaman lain dengan bunga yang lebih rendah untuk melunasinya. Setelah itu, lunasi utang Anda!

3. Kurangi pengeluaran
Sekarang bukan waktunya untuk hidup di luar batas kemampuan. Jangan membeli barang-barang bermerek, merenovasi rumah, atau pergi berlibur sementara Anda masih berjuang melunasi utang dan memenuhi kebutuhan pokok yang lebih penting. Selain itu, pertimbangkan pengeluaran lain yang bisa Anda pangkas dari anggaran untuk mengencangkan ikat pinggang.

4. Bangun networking
Jika selama ini Anda masih meremehkan kekuatan networking, ubah pikiran tersebut sekarang. Jaga hubungan dengan kontak profesional dan teman-teman melalui media sosial, email, dan telepon. Datangi kegiatan-kegiatan profesional yang memungkinkan Anda menjalin kontak baru dan menemukan peluang emas. Ingat, networking berjalan dua arah. Jangan segan membantu orang lain, agar mereka dengan senang hati memberikan bantuan ketika Anda memerlukannya suatu saat nanti.

5. Tambah keahlian
Ambil setiap kesempatan belajar yang ditawarkan perusahaan, entah dengan cara mengikuti setiap kelas yang mereka sediakan atau dengan mengajukan reimburse biaya pendidikan. Jika perusahaan tidak menyediakan tawaran seperti itu, cari sendiri kesempatan untuk mengembangkan bakat baru. Hal itu akan membuat nilai jual Anda bertambah di mata perusahaan sekarang, dan perusahaan lain pun bukan tak mungkin ikut melirik.

6. Perbarui resume
Pastikan Anda terus memperbarui resume dengan mencantumkan setiap keahlian baru yang Anda kuasai, berikut setiap pencapaian yang Anda raih selama menggeluti pekerjaan. Jaga hubungan dengan orang yang mungkin mampu memberikan referensi positif tentang Anda jika sewaktu-waktu dibutuhkan.

7. Berburu di rumah
Jangan mengecek situs lowongan pekerjaan lewat koneksi internet kantor karena perusahaan dapat mengeceknya. Jika Anda berniat berburu pekerjaan baru, lakukan semua urusan dari rumah ketika Anda sedang tidak bekerja.

8. Berpikir positif
Jangan biarkan pikiran buruk menguasai Anda dengan kemungkinan dipecat. Tapi, tidak ada salahnya mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan terburuk. Jika hal itu memang terjadi, setidaknya Anda telah siap menghadapinya.

8 Tameng Hadapi Resiko PHK !


TIDAK ada seorang pun yang mengharapkan dirinya bakal mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) oleh perusahaan tempat bekerja sekarang. Akan tetapi, di tengah kondisi perekonomian yang fluktuatif, segalanya mungkin terjadi.

Jangan biarkan diri Anda menghadapi situasi terburuk tanpa tameng pelindung. Persiapkan diri menghadapi mimpi buruk tersebut dengan menjalankan sejumlah tindakan antisipasi berikut ini:

1. Dana darurat
Para pakar umumnya menyarankan untuk menyisihkan dana sebesar tiga sampai enam kali pengeluaran hidup perbulan (biaya sewa tempat tinggal, hipotek, makanan, tagihan listrik, air, dan lain-lain). Simpan dana tersebut ke dalam akun tabungan berbunga tinggi.

2. Lunasi utang
Cicil atau lunasi utang kartu kredit berbunga tinggi yang Anda miliki. Jika tidak mungkin, transfer ke kartu kredit berbunga rendah, atau ambil pinjaman lain dengan bunga yang lebih rendah untuk melunasinya. Setelah itu, lunasi utang Anda!

3. Kurangi pengeluaran
Sekarang bukan waktunya untuk hidup di luar batas kemampuan. Jangan membeli barang-barang bermerek, merenovasi rumah, atau pergi berlibur sementara Anda masih berjuang melunasi utang dan memenuhi kebutuhan pokok yang lebih penting. Selain itu, pertimbangkan pengeluaran lain yang bisa Anda pangkas dari anggaran untuk mengencangkan ikat pinggang.

4. Bangun networking
Jika selama ini Anda masih meremehkan kekuatan networking, ubah pikiran tersebut sekarang. Jaga hubungan dengan kontak profesional dan teman-teman melalui media sosial, email, dan telepon. Datangi kegiatan-kegiatan profesional yang memungkinkan Anda menjalin kontak baru dan menemukan peluang emas. Ingat, networking berjalan dua arah. Jangan segan membantu orang lain, agar mereka dengan senang hati memberikan bantuan ketika Anda memerlukannya suatu saat nanti.

5. Tambah keahlian
Ambil setiap kesempatan belajar yang ditawarkan perusahaan, entah dengan cara mengikuti setiap kelas yang mereka sediakan atau dengan mengajukan reimburse biaya pendidikan. Jika perusahaan tidak menyediakan tawaran seperti itu, cari sendiri kesempatan untuk mengembangkan bakat baru. Hal itu akan membuat nilai jual Anda bertambah di mata perusahaan sekarang, dan perusahaan lain pun bukan tak mungkin ikut melirik.

6. Perbarui resume
Pastikan Anda terus memperbarui resume dengan mencantumkan setiap keahlian baru yang Anda kuasai, berikut setiap pencapaian yang Anda raih selama menggeluti pekerjaan. Jaga hubungan dengan orang yang mungkin mampu memberikan referensi positif tentang Anda jika sewaktu-waktu dibutuhkan.

7. Berburu di rumah
Jangan mengecek situs lowongan pekerjaan lewat koneksi internet kantor karena perusahaan dapat mengeceknya. Jika Anda berniat berburu pekerjaan baru, lakukan semua urusan dari rumah ketika Anda sedang tidak bekerja.

8. Berpikir positif
Jangan biarkan pikiran buruk menguasai Anda dengan kemungkinan dipecat. Tapi, tidak ada salahnya mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan terburuk. Jika hal itu memang terjadi, setidaknya Anda telah siap menghadapinya.

Jumlah Motor DKI Hampir Menyamai Jumlah Penduduk !


Sebanyak 8.087.118 unit kendaraan roda dua di Jakarta dipastikan tidak dapat subsidi BBM lagi bila pemerintah menetapkan aturan baru, keharusan motor menggunakan pertamax.

Kalau aturan itu diterapkan BBM bersubsidi hanya bisa dinikmati angkutan umum atau kendaraan pribadi jenis tertentu.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas (Dirjen Migas) Evita Herawati Legowo menuturkan, kajian itu akan selesai akhir Juni, sehingga Agustus mendatang bisa segera diujicobakan.

Padahal setiap hari lebih dari 890 sepeda motor baru terdaftar di wilayah hukum Polda Metro Jaya. Hingga Mei 2010, jumlah kendaraan roda dua di jalan Jakarta mencapai 8.087.118 unit.

Jumlah ini nyaris melebihi jumlah penduduk Jakarta yang mencapai 8.523.157 orang pada Febuari 2010, berdasarkan data dari Dinas Pendudukan dan Catatan Sipil DKI Jakarta.

Berdasarkan data dari Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya, yang didapat Kamis 27 Mei 2010, jumlah kendaraan roda dua yang berada di wilayah hukum Polda Metro Jaya setiap tahunnya naik hingga 1 juta unit.

Tahun 2000: 2.112.961
Tahun 2001: 2.446.471
Tahun 2002: 2.816.442
Tahun 2003: 3.310.318
Tahun 2004: 3.940.700
Tahun 2005: 4.647.435
Tahun 2006: 5.310.068
Tahun 2007: 5.974.173
Tahun 2008: 6.765.723
Tahun 2009: 7.516.556
Tahun 2010 smp Mei: 8.087.118

Pemerintah kini telah melakukan pembicaraan dengan Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) terkait rencana ini. Pembahasan-pembahasan tentang mekanisme pembatasan konsumsi BBM dan opsi mana yang akan digunakan terus dilakukan.

Jumlah Motor DKI Hampir Menyamai Jumlah Penduduk !


Sebanyak 8.087.118 unit kendaraan roda dua di Jakarta dipastikan tidak dapat subsidi BBM lagi bila pemerintah menetapkan aturan baru, keharusan motor menggunakan pertamax.

Kalau aturan itu diterapkan BBM bersubsidi hanya bisa dinikmati angkutan umum atau kendaraan pribadi jenis tertentu.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas (Dirjen Migas) Evita Herawati Legowo menuturkan, kajian itu akan selesai akhir Juni, sehingga Agustus mendatang bisa segera diujicobakan.

Padahal setiap hari lebih dari 890 sepeda motor baru terdaftar di wilayah hukum Polda Metro Jaya. Hingga Mei 2010, jumlah kendaraan roda dua di jalan Jakarta mencapai 8.087.118 unit.

Jumlah ini nyaris melebihi jumlah penduduk Jakarta yang mencapai 8.523.157 orang pada Febuari 2010, berdasarkan data dari Dinas Pendudukan dan Catatan Sipil DKI Jakarta.

Berdasarkan data dari Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya, yang didapat Kamis 27 Mei 2010, jumlah kendaraan roda dua yang berada di wilayah hukum Polda Metro Jaya setiap tahunnya naik hingga 1 juta unit.

Tahun 2000: 2.112.961
Tahun 2001: 2.446.471
Tahun 2002: 2.816.442
Tahun 2003: 3.310.318
Tahun 2004: 3.940.700
Tahun 2005: 4.647.435
Tahun 2006: 5.310.068
Tahun 2007: 5.974.173
Tahun 2008: 6.765.723
Tahun 2009: 7.516.556
Tahun 2010 smp Mei: 8.087.118

Pemerintah kini telah melakukan pembicaraan dengan Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) terkait rencana ini. Pembahasan-pembahasan tentang mekanisme pembatasan konsumsi BBM dan opsi mana yang akan digunakan terus dilakukan.

Rabu, 26 Mei 2010

Abuya, Pria Malaysia Klaim Ciptakan Tsunami Aceh !


Sebulan sebelum pemimpin Al Arqam, Asaari Muhammad, yang akrab dipanggil Abuya, meninggal dunia, istri keduanya, Hatijah Aam, meluncurkan buku berjudul Tsunami: Bukti Abuya Putra Bani Tamim, yang mengklaim bahwa Abuya-lah yang menciptakan tsunami Aceh tahun 2004.

Dalam bukunya itu, ditulis juga Abuya akan merebut kekuasaan Pemerintah Indonesia dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, demikian Berita Harian, seperti terpantau di Kuala Lumpur, Malaysia.

Menurut harian Malaysia tersebut, buku yang mengklaim bencana tsunami di Aceh tahun 2004 terjadi atas kehendak Abuya itu diluncurkan di Hotel Sultan, Jakarta, 7 April 2010. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat mengkritik keras peluncuran buku itu dan menuduhnya sebagai sesat serta mendesak agar buku tersebut dilarang peredarannya.
Hatijah mengatakan, pemimpin Al Arqam Malaysia itu punya mukjizat, yaitu mampu mengangkat dan menerbangkan air laut sebesar gunung setinggi 10.000 meter dan secepat pesawat Boeing berkecepatan 700 kilometer per jam.

Tujuan Abuya mengirim tsunami ke Aceh adalah untuk menghentikan orang yang gila perang di Aceh agar tidak sanggup lagi berperang di bumi milik Abuya, demikian dalam bukunya di bab tiga.

Menyelamatkan Diri - Satu keluarga panik berlarian untuk menyelamatkan diri saat gelombang tsunami datang dari arah belakang mereka, di Simpang Lima, Banda Aceh. Foto ini baru diperoleh kembali, setelah seseorang mengantar kembali kamera Serambi yang sempat hilang ketika bencana itu terjadi.

Buku itu malah tidak dijual dan diedarkan di Malaysia yang merupakan basis dari Darul Al Arqam.

Pemerintah Malaysia telah melarang aliran Al Arqam yang punya pengikut sekitar 10.000 tahun 1994. Abuya pun sempat ditahan Pemerintah Malaysia dengan dasar ISA (UU Keamanan Dalam Negeri).

Untuk menggambarkan kehebatan suaminya, dalam bab empat yang berjudul "Perang Penuh Keajaiban", Hatijah menceritakan satu keluarga Aceh selamat dari maut tsunami hanya karena menyebut nama Abuya.

Diceritakan ketika saat air laut sampai ke tahap leher, anggota keluarga Dinas Kesehatan Aceh, Rita Mutia, saling berpegangan tangan dan memohon ampun dari Allah serta menjerit "Mak, Ayah, tolong. Ya Allah tolong! Ya Allah tolong!"

Namun, abang Rita, Syeikh Mujiburrizal, meminta Rita jangan meminta tolong kepada Allah, melainkan kepada Abuya. Syeikh pun dengan lantang berteriak "Abuya tolong!" dan Rita turut menjerit meminta pertolongan dari Abuya.

Hatijah mengklaim keluarga tersebut ternyata selamat dari maut hanya dengan menjerit nama Abuya karena sebuah kapal ikan yang dipandu pasukan penyelamat gaib ada mendekati dan menyelamatkan mereka.

Dalam bab enam yang berjudul "Betulkah Abuya Asaari Putra Bani Tamim", Hatijah menulis karena mengaku dialah Putra Bani Tamim atau Putra Bani Hashim atau Satria Piningit itu. Dan dia adalah calon Presiden Indonesia mendatang.

Buku tersebut juga diluncurkan di Bandung, Jawa Barat, pada 23 April 2010 dan mendapat kritikan MUI Jabar yang mengatakan tulisannya tidak masuk akal dan menyesatkan.

Asaari Muhammad telah meninggal dunia pada 13 Mei 2010 di Rumah Sakit Ipoh. Jenazah telah dikuburkan di Rembau, Seremban. Namun, belum lama ini menimbulkan kehebohan karena Hatijah mengatakan bahwa Abuya akan hidup lagi dari kubur sehingga banyak pengikutnya menanti di kuburan. Pemerintah Malaysia kini terus memantau kegiatan pengikutnya.